Bisnis Batok Kelapa Beromzet 60 Juta

Muhlis mungkin tak pernah menyangka kalau batok kelapa mampu meng antarkannya suk ses seperti sekarang. Di tangan pria kelahiran Sumenep, 27 Februari 1973 ini, batok kelapa bisa menjadi aset yang bisa diekspor ke luar negeri.  Bagaimana kisah jatuh bangun Muh lis memperoleh kesuk- sesan? Berikut ini adalah wawancara wartawan Republika, RR Laeny Sulistyawatide ngan Muhlissaat pameran Inacraft 2013, Ahad (28/4) lalu di JCC Senayan, Jakarta Selatan.

Kesuksesan yang digenggam Muhlis saat ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Saat itu di era 1990-an, pria yang baru lulus sekolah menengah atas (SMA) ini me mutuskan memilih profesi sebagai pemain sepak bola. Tapi, menurutnya, pemain bola bukanlah pekerjaan berumur panjang. Dari situ, pria berusia 40 tahun ini memu- tuskan bekerja sebagai karyawan penghasil kerajinan dari kulit. 

Ternyata, pekerjaan yang saat itu dijalaninya juga tidak berumur panjang. Intrik di tempat kerja, membuat Muhlis akhirnya mengundurkan diri. Keinginan untuk mendirikan usaha kerajinan sendiri pun mulai bergelayut di pikirannya. "Saya kemudian men di - rikan usaha kerajinan manik-manik" ujar Muhlis. Awalnya usaha itu berjalan lancar. Muhlis bahkan sampai mengekspor kera jinan buatannya ke Korea dan AS.

Namun, ketika krisis moneter menghan-tam, usaha Muhlis gulung tikar. Saat itu barang kerajinan Muhlis yang sudah sampai di Korea dan AS tidak jadi dibeli dan dikembalikan. Kerugian yang mencapai angka Rp 68 juta pun harus ditanggung sendiri oleh Muhlis dan keluarga kecilnya. Inspirasi dari Swedia Gagal di tengah krisis tak membuat Muhlis lantas menyerah. Angin perubah - an pun akhirnya mulai berembus pada 2001.

Berbekal gambar pola kerajinan yang dibuat oleh orang asal Swedia, Muhlis terinspirasi untuk merealisasikan pola itu dalam batok kelapa. Dia sekaligus ingin membuktikan, batok kelapa yang selama ini dianggap sampah, ternyata bisa dimanfaatkan dan menjadi kerajinan yang lucu. Apalagi, menurutnya, batok kelapa selalu ada dan tak mengenal musim untuk tumbuh. Dengan meminjam uang Rp 500 ribu untuk modal usaha, Muhlis kemudian pergi ke pasar tradisional dan membeli batok kelapa. "Saat itu harga batok kelapa Rp 5 ribu per karung. Kini har ganya Rp 25 ribu per karung," ungkapnya.

Di awal usahanya, Muhlis hanya membuat tas dari batok kelapa dan di - jual di kawasan Malioboro, Yogya karta.
Sayang selama kurun 2001-2006, usaha Muhlis hanya berjalan di tempat.  Perubahan tekstur di batok kelapa karya Muhlis yang diperhalus, ternyata mampu membawa perubahan ber arti. Melalui promosi dari mulut ke mulut, kerajinan tas itu akhirnya ber kem bang.

Usaha Muhlis pun mulai merasa - kan untung pada 2006. "Waktu itu ada warga di Jepang, Singapura, Malaysia yang mendukung saya un tuk mengekspor kerajinan ini ke negaranya," kata Muhlis. Muhlis kemudian memperluas pro duk buatannya. Mulai dari jam, celengan, kendi, botol, topi, sampai sa buk yang dibuat dari pecahan batok kelapa. 
Harga barang yang ditawarkan Muhlis juga tergolong kompetitif, yaitu berkisar Rp 3.500 untuk dom pet tempurung sampai yang terma- hal Rp 15 ribu untuk satu buah tas.

Usaha Muhlis terus berkembang ke tika ia menjadi peserta Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan sempat diwawancara media massa. Tren penjualan kerajinannya terus meningkat. Kini, Muhlis memiliki cabang di ber bagai tempat. Selain di Malio boro, dia juga membuka cabang di Ja kar ta, yaitu di Thamrin City dan Taman Mini Indo nesia Indah (TMII). Muhlis juga merambah pasar di Jawa Barat de ngan mem buka cabang di Bogor dan Depok.

Pesanan barang kerajinannya rata- rata mencapai 10 ribu buah setiap bulan. Omzet yang diperoleh Muhlis dari cabangnya di Malioboro saja mencapai Rp 700 ribu per hari. "Rata-rata setiap bulan pendapatan bisa mencapai Rp 60 juta," ungkapnya.

Kini, Muhlis memiliki 15 karyawan, rumah dan mobil, serta mampu membuka lapangan kerja. Meski telah mengenyam sukses, Muhlis masih juga memiliki mimpi.  Dia ingin semakin meningkatkan kualitas produknya. Rencananya, debu dari batok kelapa akan dia jadikan kayu bakar aromaterapi. Tapi, ide ini masih dalam tahap penyempurnaan. *Sumber : Harian Republika (16/5/2013)

Related product you might see:

Share this product :
 
Alamat : Bandung Selatan (Workshop) | Jl. Penggalang Raya No. 03 - Matraman, Jakarta Timur (Co Distribution)
Copyright © 2012. DKI STORE - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Dkistore
Proudly powered by Blogger